|
By Mujib Burahman
Peserta yang datang secara kasat mata didominasi oleh angkatan 70 dan 80, disusul 90 dan beberapa angkatan 00 (visual observation, mungkin salah, lengkapnya ada didaftar tamu yg sampai tulisan ini di buat belum tayang). Acara beragam mulai dari temu kangen silaturahim, lomba nasi goreng, lelang lagu untuk membantu alumni yang sedang gering sampai pemilihan ketua IASPEM Baru.
Ingatan penulis kembali ke 22 tahun silam, di suatu pagi selepas subuh, kala mentari belum beranjak dimedio bulan juli, seorang anak harus tergopoh menempuh jarak ±35km cibubur rawamangun, untuk memulai hari pertamanya di STMN PEMBANGUNAN JAKARTA. Selebihnya adalah pengalaman yang mengalir yang membentuk karakter dan mengisi kenangan, selama 4 tahun menempuh pendidikan dan meraih ketrampilan disalah satu STM terfavorit di ibukota.
Dan hari itu, di sabtu itu berada lagi ditengah-tengah teman-teman alumni (yang sebagian besar old pal but actually new face J, thanks to temen2 MK dan MO yang hadir dan masih bisa dikenali) serasa memampatkan ruang dan waktu mengembalikan kenangan-kenangan masalalu di tengah keria-an dan keceriaan acara. Begitulah bagian kenangan tergambarkan.
Tapi salah satu agenda yang penting yang diusung oleh HBH, adalah regenerasi, pemilihan ketua IASPEM yang baru, yang diharapkan akan membentuk zaken kabinet, yang akan mewadahi berbagai program kerja yang akan disusun selama masa baktinya. Dengan proses ‘demokrasi’ ala STM, dengan diselingi oleh sebuah interupsi, terpilih Jeffry Angelo MK94 (masuk 1990 –red), sebagai ketua baru IASPEM. Segera sebuah roda organisasi akan diputar, sejarah akan mencatat dan khayalak akan menilai. Dibalik keriaan, kecerian dan kebuncahan kumpul silaturahmi, terselip sebuah agenda serius untuk meretas jalan kedepan. Meminjam Aristoteles, “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya.” – Aristoteles 384-322 SM. Begitulah bagian catatan yang tertulis.
Dalam setiap awal selalu digantungkan harapan. Dan setiap harapan harus selalu bertumpu pada realitas (internal maupun eksternal) sebagai pijakan awal untuk memulai. Dengan jumlah alumni yang besar dan berkualitas (kata Om Budi Awan nih), tantangan pertama mungkin bagaimana menggerakkan para alumni untuk ambil bagian dari setiap program kerja yang disusun. 0,67% tentunya kurang memiliki daya dorong dan gaung untuk keberhasilan sebuah program.
Setiap era jelas memiliki tantangannya sendiri. "Khairunnas, bi khairun binnas"...Sebaik-baik seseorang/manusia adalah yg paling banyak manfaatnya bagi manusia lainnya", begitu kata Jeffry yang bisa kita anggap sebagai short speech di komen FB (harusnya ada speech ya kemaren J). Dalam cuaca globalisasi seperti sekarang ini yang membuat batas-batas teritori menjadi samar dan membuat dunia menjadi datar (The world is flat kata Milton S Friedman) tentulah tantangannya berbeda dengan era kukuh tegaknya nation modern state. Ditambah dengan fakta demografi bahwa indonesia adalah salah satu negara dengan potensi angkatan muda yang besar, tingkat pertumbuhan ekonomi in average 5%/tahun (tergolong baik diantara negara2 lain), kaya sumber daya, tapi disisi lain miskin etos kerja, miskin kualitas sumber daya yang mumpuni, miskin pemimpin yang berkualitas dan bervisi jauh kedepan tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi semua eksponen alumni IASPEM untuk ambil bagian dalam gerakan besar menjadikan negeri yang lebih berdaulat dan lebih bermartabat, dengan motor kepengurusan IASPEM yang baru. Demikianlah sebuah harapan di sematkan pada kepengurusan baru, dengan dukungan seluruh rekan alumni. Jalan tentu tak selalu lurus dan mudah, tapi sepanjang niat baik untuk menjadi manusia yang paling banyak manfaatnya bagi manusia lain, dengan Basmallah, mari kita retas jalan..
|